ME Story Line · saya

​ME Story Line: Unpredictable Confession ( Let’s go out! )

Cast: Go Eunchan, Song Mino

Author : VN 
Maret 2017

(Seoul 1AM)

        Jalanan sudah sedikit lengang dimakan waktu yang mulai menua ditelan petang. Sepasang idol yang tengah asyik mengobrol di bangku taman tampak tak menghiraukan gelapnya suasana malam itu. Mereka terlalu penasaran satu Sama lain dan tak ada waktu untuk berhenti, entah siapa yang menghibur siapa?  Yang mereka tau hanyalah malam itu berjalan sangat cepat dan nyaman. Mereka hanya berhenti untuk tertawa dengan cerita satu sama lain atau menyesap minuman hangat yang mereka beli beberapa saat lalu.
“Jadi kau si gadis langganan dijemur?” Mino tertawa mengingat kenangan yang selama ini tidak pernah Ia gali karena menurunya kenangan SMP adalah masa masa labil yang penuh dosa dengan hal hal bodoh yang kadang membuat mual jika diingat ingat.  Eunchan mengangguk masih dengan tawa renyahnya.

“Aku tidak menyangka kita dulu satu sekolah” mino melanjutkan

“Aku juga tidak pernah melihatmu di sekolah, mungkin karena kau sudah jadi traini waktu itu”

” iya aku jarang menghabiskan waktu dengan temen teman, ngomong ngomong apakah tanggal comeback kalian sudah ditetapkan?” Tanya mino mengganti topik yang telah diperbincangkan sejak tadi.

” sudah, kami akan comeback oktober tahun ini setelah menyelesaikan YG Family tour.” Jawab Eunchan menghela napas panjang. Rasanya sudah lama sejak ia naik panggung bersama tim nya. Sejak november 2016 lalu sampai sekarang mereka sibuk dengan jadwal masing masing.

” kapan Winner akan berangkat ke jepang?” Tanya Eunchan memastikan info yang ia dengar tidak salah, tapi sebelum sempat mendapatkan jawabannya titik titik air mulai menjatuhi mereka dan dengan cepat membesar memaksa mereka untuk mencari tempat berteduh. Mino meraih tangan Eunchan, mengajaknya berlari kearah salah satu bangunan denga telapak tangannya yang mencoba menghalangi air hujan menimpa kepala Eunchan tapi ternyata tak ada tempat berteduh disana. Mereka berhenti sejenak memastikan tempat untuk berteduh, mata Mino melihat toko yang sudah tutup di seberang jalan dan segera menyuruh Eunchan berlari kesana.

“Hujannya tiba tiba sekali” gerutu Mino, membuka kemejanya yang sudah basah kuyup terkena hujan menyisakan T-shirt merah muda yang hanya sedikit basah. Diperasnya kemeja itu agar tidak terlalu basah lalu mengikatnya di pinggang. Ia melihat Eunchan membuka ikat rambut yang sejak awal mengikat rabut sebahunya, memerasnya sedikit agar rambutnya tidak terlalu basah seperti baju kaos oblong yang ia kenakan sekarang. 

Mino membuka ikatan kemeja di pinggangnya lalu menaruhnya di kepala Eunchan.

“Keringkan dengan itu”

“Gomawo” 

Eunchan masih sibuk mengeringkan rambutnya sementara Mino tengah berusaha menahan sesak yang tiba tiba menghampiri dadanya. Mungkin karena cuacanya tiba tiba menjadi dingin dan lembab. Ia kembali menoleh ke arah Eunchan, kali ini Eunchan tengah memeras kaos basahnya dengan pipinya yang entah kapan memerah membuat dada Mino seperti ditohok dengan keras. Suasana macam apa ini? Pikirnya. Minggu yang lalu Ia baru saja putus dengan pacarnya dan beberapa jam yang lalu Ia masih dalam mood yang tidak baik, tapi sekarang semua perasaan itu lenyap setelah obrolan panjang mereka. Apakah aku seorang playboy? Atau seorang brengsek yang dengan mudah tergoda oleh banyak wanita, Pikirnya. Tapi ini kali pertama ia menghadapi situasi seperti ini, atau mungkin ini yang dinamakan pelampiasan dari rasa sakit hatinya selama seminggu ini dan korbannya adalah Go Eunchan, gadis yang bersamanya saat ini dikepung hujan minggu malam, gadis yang terkenal Playgirl karena sering menggonta ganti pacar dengan hubungan yang tidak pernah bertaham lama. Terakhir kali Ia mendengar bahwa Eunchan sedang berhubungan dengan seorang aktor yang sedang naik daun dan belum lama ini putus entah karena apa. Mino berpikir mungkin karena Eunchan ingin mencari yang baru. 

“Kemejamu” kata Eunchan sambil menyordorkannya pada Mino. Mino mengambilnya dan memakaikannya pada Eunchan. 

“Kau bisa pakai, agar lebih hangat”

“Tidak, aku tidak kedinginan. Lagipula kemejamu basah, itu tidak akan banyak membantu” kata Eunchan membuat Mino sekali lagi menelan ludah. Level kepekaan gadis ini benar benar payah pikirnya atau dia sedang berusaha menggodanya? Entahlah. 

“Geure geurom” jawab Mino mengambil kemejanya dari uluran tangan Eunchan.  

       Hujan belum memberi tanda akan segera berhenti, makin larut mereka mulai kehabisan topik untuk diperbincangkan. Mino mulai merasa agak aneh dengan suasana malam ini. Ini kali pertama mereka mengobrol selama ini, kali kali sebelumnya mereka hanya bertegur sapa untuk menyelesaikan kewajiban dan menjaga sopan santun antar sesama artist dengan lebel yang sama. Tapi sekarang? Setelah mereka tahu satu sama lain, keadaan berubah 180 derajat. Gadis itu menghampirinya seperti tak percaya pada kenyataan yang ada dan mengajaknya makan untuk mengenang masa masa mereka sekolah. Sejak tadi gadis itu yang paling sering bertanya dan bercerita sementara Ia hanya mengikuti arah pembicaraan dan tanpa sengaja ikut tenggelam terbawa arus aneh yang dibawa gadis itu. Sedikit demi sedikit kepribadian aneh gadis itu mulai Ia ketahui dari cerita cerita yang ia dengar barusan ditambah yang ia lihat di TV menyepurnakan pemikiran pemikiranya tentang keanehan seorang Go Eunchan. 

        Mereka duduk bersebelahan tanpa sepatah katapun, masih banyak yang ingin Ia tanyakan tapi ia urungkan melihan raut muka gadis itu yang tampak kesal melihat hujan tak kunjung reda. Gadis itu mengeluarkan telpon genggam di dalam tas ranselnya yang sedang berbunyi menekan tombol answer lalu berbicara dengan bahasa aneh yang tak dapat ia mengerti. Satu lagi yang ia ketahui, sepertinya gadis ini bukan asli korea mungkib  dia campuran, melihat cara bicaranya yang fasih menggunakan bahasa aneh namun teras enak didengar itu, kulitnya juga tak sepucat orang korea biasanya tapi tetap putih, matanya, matanya juga tak sipit namut juga tidak besar, ia memiliki kelopak mata ganda, atau itu hasil oprasi sebelum masuk YG? Bukankah sebeluk berpindah ke YG Ia cukup lama di SM. Pikiran pikiran aneh mulai menggerogoti kepala Mino membuatnya tak bisa berpikir jernih. Semakin dirinya tersesat dalam hutan pikirannya entah kenapa hatinya juga makin memanas menelanjangi dirinya yang masih terjebak dalam pikiran tentang Go Eunchan. Seseorang harus menyelamatkannya, dan orang itu adalah dirinya sendiri. Jika tidak? Ia akan benar benar gila besok pagi, hal gila macam apa yang menghampirinya dalam sekejap mata.

“Ya!, kau mau mendengar lagu baru kami?” Eunchan menepuk bahu Mino menyadarkannya dari Mimpi yang merayapinya bahkan sebelum sempat memejamkan mata, sepertinya gadis itu sudah berhenti menelpon. Ia sedikit terkejut tapi langsung mengangguk, melihat reaksi itu Eunchan yang tampak bersemangat memasangkan earphone ke telinganya.

Mino berusaha masuk ke dalam setiap melodi yang terdengar sangat bersih ditelinganya tapi ia tetap tak bisa, segalanya tiba tiba mulai berubah menjadi slow-motion dengan bayangan Go Euchan yang mulai menari nari dalam pikirannya mengabaikan yang asli di depan matanya yang sedang berbicara entah tentang apa, ia tidak mendengar apapun saat ini kecuali Go Eunchan dalam pikirannya yang sejak tadi merayunya, menghoda dengan penuh pesona seperti penyihir yang sedang menghipnotis mangsanya. 

Lagunya berheti berputar membawanya kembali pada dunia nyata. 

” Cukup sampai disana, itu masih setengah, liriknya juga belum kupikirkan”. Suara Euchan asli menggema di telinganya. Mino menatap tajam mata gadis itu mencari jawaban yang ia cari sejak tadi, tapi tetap tak ia temukan.

“Bagaimana? Kau tak suka?” Tanya Eunchan, dilepasnya earphone yang selama 2 menit terpasang di telinga Mino tapi sebelum itu sempat terlepas Mino menahan tangan gadis itu dan menatapnya tajam. Gadis itu menatap heran pada Mino. Kini kedua mata mereka bertemu, Eunchan tersenyum heran masih dengan ekspresi bertanya tanya.

“Waegure?” Tanya Eunchan sekali lagi dengan bahasa manusia. Mino tak segera menjawab dan malah menariknya mendekat memusnahkan semua jarak di antara mereka. Ia masih menatap mata Eunchan tajam dan serius sedangkan gadis itu mulai bingung dengan tingkah Mino.

“Go Eunchan ssi?” 

“Wae?” Tanya Eunchan heran

“Uri Sagija!”

“Ne???” Bola mata Eunchan membesar seperti ingin keluar karena terkejut.

“Wae?” Eunchan bertanya melanjutkan.

Mino menarik napas panjang mencari kata kata disana untuk menjelaskan hal yang ia anggap tidak rasional itu sambil tetap memegang pergelangan tangan Eunchan. 

“Aku tau kau player,  aku juga tau kau tidak akan berlama lama dengan suatu hubungan tapi maukah kau menjadi pacarku? Aku memang baru saja putus dengan pacarku dan terlihat seolah mencari pelampiasan karena kita baru saja saling berbicara hari ini. Ini seperti kesepakatan yang adil bukan? Kau sedang mencari pacar dan aku sepertinya mau jadi pacarmu.” Jawab Mino terbata, ia menyadari jawaban konyol yang entah kapan keluar dari mulutnya. Eunchan tertawa mendengar jawabannya.

“Ha ha ha… Song Minho ssi, jawaban itu terdengar seperti akulah yang mengejarmu” senyum aneh itu lagi pikir Mino. 

“Benarkah?” Mino melepas tangan Eunchan masih menunggu jawaban dari bibir kecilnya. Alih alih memberi jawaban gadis itu mengeluarkan slayer merah basah dari sakunya dan mengalungkannya di leher Mino sambil tersenyum.

“Jam berapa kau berangkat ke Jepang besok?” Tanya Eunchan mengalihkan. Mino menghela napas panjang, sepertinya ajakannya telah ditolak. 

“Aku sepertinya akan menyukaimu besok pagi, nega nol jikyojulke,  uri sagi haja ne?” Mino bertanya sekali lagi masih dengan perkataan yang tak terduga membuatnya ingin meninju dirinya sendiri. 

“Kau berangkat jam berapa besok?” Eunchan lembali tersenyum menanyakan hal yang sama membuat nyali Mino kembali menciut.

“Pukul 9 pagi” jawabnya tak melihat kearah Eunchan. 

“Kau bahkan tak menyukaiku saat ini, dan malah merayuku untuk menerima tawaran anehmu, kau tak akan bisa melindungiku” Perkataan Eunchan sangat tajam seperti mencibir. Gadis itu berdiri dan dengan cepat berlari ke tengah hujan membuatnya dengan cepat disambar air. Mino melihatnya dan langsung berdiri melihat tingkah gadis itu, hendak mendekat tapi perkataan gadis itu menghentikannya.

“Geureeee!!! URI SAGIJA SONG MINHO SSI!” teriaknya kearah Mino dengan cengiran lebar diwajahnya. Gadis itu kembali berlari kearah Mino dan berhenti tepat di depannya dan Mino hanya bisa diam melihat tingkah gadis yang tengah menerima ajakan berpacarannya. 

“Aku akan menemui besok sebelum jam 9, untuk mengambil ini” Eunchan menunjuk slayer yang ia ikatkan  di leher Mino beberapa saat lalu dan mengeluarkan sebuah payung dari dalam tas ranselnya. Membuat Mino semakin yakin kalau gadis ini benar benar mahir mempermainkan perasaan pria dan mengambil kesempatan. Gadis itu memberikan payung itu pada Mino dengan suara yang menggigil. 

Ia dengan cepat menyambar pipi Mino dan menciumnya dengan kilat.

“Igon intro ya, jalja.”Tanpa sempat mendengar jawaban Mino gadis itu berlari menjauh sambil berteriak ke arah Mino sekali lagi

“Annyeong ne namjachinggu, ne hakyo chingu, jangan lupa besok kau harus sudah suka padaku” lambainya lalu menghilang di kegelapan malam meninggalkan Mino yang masih setengah sadar dengan kedua benda yang gadis itu tinggalkan dan kecupan di tengah hujan. Mino membuka payung itu dan berlari kearah gadis itu menghilang, mencoba mencarinya tapi hasilnya nihil. Keberadaan gadis itu sudah tak terdeteksi. Mino tersenyum melihat sekali lagi slayer dan payung di tangannya sambil masih memegang pipinya yang terasa memanas,  ia tak menyangka hari ini akan seperti ini jadinya. ‘Kokjonghajima Go Eunchan, tanpa menunggu besokpun sepertinya aku sudah mulai menyukaimu’ katanya, mulai berjalan di tengah hujan yang entah mengapa terasa hangat malam itu. ‘Neil Boja naui Eunchan’.

End.

P.S. semoga kalian suka. Ini masih berlanjut dan sengaja aku post adegan dimana Mino nembak Eunchan, first impression mereka nyusul. Thanks for reading.

Iklan
ME Story Line · Oneshot

ME Story Line- Intro: Transformation

          Untuk sejenak pagi itu adalah pagi terdamai sepanjang 4 tahun terakhir. Tidak ada yang spesial sebenarnya, matahari masih mengintip seperti pagi pagi semestinya dengan cahanyanya yang perlahan menggeliat keluar dari balik gedung apartment sebelah. Burung? Seperti biasa tidak ada kicauan burung pagi itu hanya suara klakson kendaraan yang terdengar samar dan hampir tak terdengar. Pepohonan tak terlihat dari pandangan, sejauh ini yang terlihat dari lantai 9 hanyalah udara hampa dengan tiang tiang menghalangi pandangan menghancurkan keinginan menikmati pagi yang seharusnya penuh semangat dan menyegarkan. Lalu kenapa pagi ini terasa damai dibandingkan pagi pagi sebelumnya?. Benar, pagi ini adalah pagi pertama setelah keputusan  terbesar yang pernah Ia buat dalam hidup, mengubah semua alur hidupnya dengan keyakinan tak tebantahkan. Memulai hidup tanpa tekanan yang selama ini menjadi parasit selama eksistensi hidupnya. Keputusan terbesar telah ia buat, sekarang tinggal fokus membangun dirinya sekali lagi mulai dari titik terendah. Musik adalah tujuan barunya. 
P.S : Ini baru intro doang, mungkin cerita ini bakalan gak jelas bin musingin karena aku berencana nulisnya tergantung mood entah itu alur mundur ato maju. Nulisnya jadi per adegan gitu, oneshot tapi bisa dimengerti kok. Cuman urutan kronologi ceritanya aja yang gak berurutan. Hope you guys enjoy the story. Peace out.