saya

Love Life: Geu Yeoja Umnida

There’s so much that I did’t say yet

Please don’t leave me

Because it’s you.I’m

Because it was you, I

I can’t go on like this

The reason I live is only you

Please do’t leave me

You’re my love, my love that I long for, you are the  person that used to love me

Will you long for me as much as I long for you?

Te person that I love crazily

If it was going to end like this, if this is really the end

I wanna go back to the time when we did’t know each other

If it’s too late, if it’s too late

I think I’ll finish my self because living is too hard

AUTHOR POV

Hembusan napas berat yang dikeluarkan oleh seorang pria yang kini mengendarai mobilnya dengan kepala penat, hari ini dia pulang kerumah, kerumahnya yang sangat ia rindukan selama dua minggu ini,  karena disana ada gadis yang selalu menunggu kepulangannya dan menyambutnya dengan senyum hangatnya. Gadis yang selama satu tahun ini mengisi hari harinya dengan barisan kisah yang selalu ingin ia ulangi setiap detiknya. Gadis yang selalu memeluknya dengan penuh cinta dan dengan wajah yang selalu membuatnya rindu setengah mati. Apalagi hari ini hujan, dan itu yang paling membuatnya ingin cepat sampai rumah dan menemani sang gadis bermain dengan hujan. Yah hujan, hal itulah yang paling disukai gadisnya, meskipun ia selalu membenci dirinya yang mudah sekali terkena flu jika berkaitan dengan hal itu. Tapi demi gadis itu, ia merelakan apapun, meskipun menyangkut kesehatannya sekalipun. Kadang jika ia terkena flu gadis itu akan merawatnya dengan sabar tampa penolakan sedikitpun, dan itu membuatnya tak akan pernah membuatnya menangis.

Ia berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis, tapi kenyataannya malah sebaliknya, sering kali ia malah membuatnya terus menangis tampa ia sadari. Gadisnya memang tak pernah menunjukkan semua itu dihadapannya, tapi ia tau dengan pasti, gadisnya sangat tersakiti dengan statusnya saat ini. Apalagi mengingat keadaan yang saat ini dialaminya tanpa bisa ia hindari.

Apakah sekarang gadisnya sedang menangis tanpa ia ketahui?. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri atas semua ini, mengapa ia harus bekerja sebagai seorang penghibur?. Tapi ia juga tak bisa begitu saja melepas semua ini, karena ini adalah cita cita ayahnya dari dulu. Dan ia juga yakin dengan pasti gadisnya tak akan membiarkannya berhenti begitu saja. Ia lagi lagi menghembuskan nafasnya berat. Mengingat bagaimana pertemuannya dengan gadisnya pertama kali.

Dia bertemu gadis itu setahun yang lalu, dan itu bisa dibilang pertemuan yang sangat aneh dan tidak wajar. Cinta pada pandangan pertama, mungkin itulah yang dia rasakan waktu itu saat pertama kali bertemu dengannya di bus. Memori yang membuatnya tersenyum sekaligus bersyukur jika mengingatnya. Begitulah pertemuan pertamanya dengan gadis yang tengah menunggunya pulang sekarang. Dan pada pertemuan kedua mereka, dia melamar gadis itu, tentu saja tidak langsung di ‘iya’ kannya, karena dia tidak mengerti satu katapun yang diucapkan Donghae waktu itu. Jelas dia tidak mengerti karena dia sama sekali tidak mengerti bahasa korea. Butuh perjuangan yang cukup keras untuk mendapatkan gadis ini. Apalagi saat ia ternyata harus berhadapan dengan kakak si gadis, tapi untunglah si kakak ternyata lancar berbahasa korea tidak seperti  adiknya yang tak mengerti sedikitpun kecuali kata ‘saranghae’. Meskipun si gadis tak mengerti bahasa korea sekalipun tapi itu tak menyurutkan niatnya untuk mendapat seluruh perhatian gadis itu untuknnya, dan ternyata kerja kerasanya selama ini tidak sia sia. Tapi ada sedikit rasa bersalah dalam dirinya, kenapa ia harus mencintai gadis itu dan berbuat nekat untuk menikahinya, padahal dia tau, pada akhirnya gadisnyalah yang paling menderita. Menderita dengan semua yang menyangkut tentang dirinya. Kenapa ia harus membawa gadisnya pada keadaan seperti ini?.

Ingin sekali ia melihat gadisnya marah padanya, menangis didepannya, mengatakan hal apa yang tidak disukainya, menumpahkan semua kekesalannya, tapi semua itu tak pernah dilakukan gadisnya didepannya. Ia hanya akan menyambutnya dengan penuh sayang dan tampa penolakan jika ia pulang kerumah, tak pernah protes tentang apa yang dilakukan dongahae diluar sana. Ia merasa dirinya benar benar pria yang kejam. Pria nekat yang tak memikirkan apapun, hanya memikirkan keegoisannya sendiri.

Donghae mulai mempercepat laju mobilnya, karena sepertinya ia sudah tak sabar lagi ingin bertemu gadis itu. Diparkirnya mobil hitamnya digarasi setelah sampai dirumah yang tak terlalu besar tapi sangat rapi dan terlihat indah karena bunga bunga yang ditanami istrinya  disetiap sudut dan itu membuat rumah kecil mereka seperti hidup.

Diedarkannya pandangannya kesegala arah, ia tau jika hujan seperti ini gadisnya tak akan mungkin berada didalam rumah seperti kebanyakan yang orang lakukan —meringkuk diatas kasur dengan selimut tebal— dia berbeda, dia akan memerobos hujan dan bermain main disana, sering kali gadisnya juga akan menariknya untuk ikut serta, dan ia hanya akan berkata iya demi menyenangkan gadisnya. Lama ia menoleh kesana kemari tak ditemukan juga sosok yang dicarinya, akhirnya ia memutuskan untuk membuka jaket yang dikenakannya dan sekarang ia hanya mengenakan kaos panjang, disambarnya payung yang berada didalam mobilnya, dan mulai berjalan mencari sosok gadis itu diantara bunga dan pohon pohon kecil.

“Kau sedang apa disini?” donghae berjongkok disebelah gadisnya duduk, dan mengarahkan payung itu padanya.

“Oh tadi bunga ini diterbangkan angin dan potnya pecah, jadi aku menggantinya, karena jika dibiarkan dia bisa mati” gadis itu tersenyum kearah suaminya lalu kembali melanjutkan aktifitas yang tadi ditinggalkannya sejenak.

“Kenapa tidak memakai baju hujan?” donghae kembali bertanya, meskipun sebenarnya dia tau jawaban apa yang akan keluar dari mulut gadisnya.

“Karena lebih nyaman jika tidak memakainya sekarang” si gadis kembali mengeluarkan senyumannya, yang membuat donghae ingin mendekapnya kedalam pelukannya. Dua minggu sudah mereka tak pernah bertemu, karena jadwal donghae yang terlalu padat, dengan reality show yang baru baru ini mendatanginya. Ia tau gadisnya ini sangat rindu padanya, tapi ia masih saja bersikap biasa saja didepannya, dan bersikap seolah mereka baru bertemu beberapa menit yang lalu.

“Kau menjamin tidak akan terkena flu?” tanyanya lagi dan dijawab dengan anggukan cepat oleh si gadis, donghae tau jawaban itu memang benar, gadisnya tidak mudah terserang penyakit meskipun tubuhnya terlihat rapuh dimatanya. Meskipunn begitu ia akan tetap memperingatkannya. Mereka kembali terdiam, dan berperang dengan pikiran mereka masing masing.

Bosan dengan keadaaan seperti itu, Donghae membuang payung yang dipegangnya, dan kini air hujan mulai membasahi seluruh badannya dan gadisnya. Mengetahui itu terjadi, gadis itu menoleh kearah donghae dengan tatapan bingung dan menyiratkan tanda tak setuju.

“Kenapa dibuang? Kau bisa sakit!” gadis itu mengambil lagi payung yang dibuang Donghae, dan kini dia lah yang memegangnya. Dia memayungi donghae yang masih berjongkok, ia tau bahwa suaminya ini baru saja sehat, setelah kemarin terkena flu selama beberapa hari disebabkan oleh dirinya yang ingin ditemani main hujan. Dan ia tak mau itu terulang lagi, ia tidak akan sanggup melihat pria yang dicintainya ini menderita karena sakit, dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak sedang berada disisinya saat itu. Karena suaminya tentu saja harus pulang ke seoul, tempat dimana seharusnya dia berada.

“Aku kan sudah sehat! Jadi kita bisa main lagi” protesnya dan membuang lagi payung yang dipegang si gadis.

“Yak opp….” Belum sempat ia menyelesaikan kata katanya, Donghae sudah menarik tubuh sigadis dan mendekapnya erat. Ia rindu gadisnya, rindu setengah mati dengan aroma yang didekapnya saat ini. Setelah dua minngu akhirnya dia bisa mererasakan kehadiran gadisnya lagi.

“Neomu neomu bogoshipo !!” Donghae mencium rambut basah gadisnya dan mengeratkan pelukannya. Dirasakannya tangan gadisnya mulai melingkar dipinggangnya, dan itu membuatnya lega.

“Nado…. Bogosipta…” gumam si gadis pelan, hampir seperti bisikan.

“kau pulang…” lanjutnya lagi, masih dengan intonasi yang sama. Donghae mengangguk meng’iya’kan. Donghae melepas pelukannya dan menatap gadisnya dengan senyum.

“Kapan terakhir kali kau mengatakan ‘kau rindu aku?’ hah? Enam bulan lalu?” gadis itu mengangguk. Dongahe tak tau apakah gadisnya sedang menangis atau tidak, karena ia tidak bisa membedakan air hujan dengan air mata. Tapi ia bahagia mendengar gadisnya mengatakan bahwa dia merindukannya, meskipun ia sudah tau jawabannya. Tapi lebih indah jika kau mendengarnya langsung, dari pada hanya sekedar tahu.

“Aku ingin menunjukkan sesuatu untukmu!” belum sempat ia mendengar jawaban gadisnya, dia menarik tangan gadisnya dan membawanya berlari kejalan raya, ingin sekali gadis itu protes dengan kelakuan Donghae tapi itu tak akan pernah mempan untuk seorang Lee Donghae yang keras kepala. Padahal dia baru saja sembuh, bagaimana jika tiba tiba saja dia sakit lagi nantinya.

Rasa khawatirnya sedikit demi sedikit mulai berkurang melihat pria yang memegang tanganya dengan erat ini terlihat sangat senang, entah karena apa, pria itu masih mengajaknya berlari sambil sesekali melihat wajahnya yang tersenyum senang.

“Bagaimana bagus tidak?” Donghae mengalihkan perhatiannya dari apa yang membuatnya selalu ternganga jika melihat pemandangan yang sekarang sedang mereka nikmati kearah gadis yang kini berdiri disampingnya.

“Ne, yeppoda! Aku suka !” jawab gadis itu tidak mengalihkan perhatiannya sedikitpun dari apa yang sekarang sedang dinikmatinya, cantik, sungguh cantik, ia tak menyangka Donghae akan membawanya berlari ketempat seperti ini, tempat yang tidak pernah ia bayangkan akan berada di daerah yang dekat dengan tempat tinggal mereka. sebuah bukit yang kecil dibelakang rumah mereka, sebenarnya ia sering melihat bukit itu ketika sedang berada di atap menikmati pemandangan. Tapi ia tak menyangka pemandangan yang dapat dilihat dari sini akan terlihat beribu ribu kali lebih bagus dari pada hanya sekedar melihatnya dari atas atap rumah.

“Kau suka?” gadis itu mengangguk lagi, tapi kini melihat kearah pria disampingnya.

“Bagaimana kau bisa menemukan tempat ini?”

“Itu rahasia, dan ini untukmu” Donghae tersenyum melihat kerutan di jidat gadisnya.dilingkarkannya tangannya dipinggang gadis itu, dan menaruh dagunya pada pundak si gadis.

“Jika kau merindukanku lagi, kau bisa datang ketempat ini” gadis itu menggenggam tangan Donghae yang berada diperutnya.

“Kamsahamnida..” Mereka berdua menikmati air hujan yang turun membasahi tubuh mereka tanpa ampun, tempat ini akan menjadi tempat favorite mereka mulai saat ini, dan membuat setiap kenangan indah tentang mereka dan tempat ini. Pasti akan sangat menyenangkan, dan tempat ini akan menjadi saksi bisu bagaimana mereka menciptakan setiap barisan kisah kisah mereka.

***

Donghae keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaian yang telah disiapkan istrinya diatas kasur. Dia melihat sekeliling kamar, tak ada tanda tanda keberadaan gadis itu disana. Ia melihat keluar jendela, hujan masih turun dengan deras, tanpa ada tanda tanda untuk berhenti. Sepertinya hujan ini akan berlangsung sangat lama. Ia sekarang tau dengan pasti dimana akan ia temukan gadisnya. Ia berjalan keluar kamar menyapu pandangnya sebentar, dan benar saja orang yang dicarinya ada disana, tempat favotite gadis itu jika tak bisa bermain hujan diluar karena hari sudah gelap, lebih tepatnya malam sudah datang.

Sosok itu masih terdiam mematung sambil sesekali mempererat selimut yang dikenakannya, ia duduk disofa panjang yang menghadap langsung kearah jendela besar yang kordennya sengaja ia buka lebar, untuk menikmati setiap titik air yang masih turun kebumi. Dongahe melangkah pasti mendekati gadis itu, lalu dipeluknya gadis itu dari belakang dan meletakkan dagunya pada pundak si gadis. Gadis itu merasa sedikit kaget dengan kehadiran Donghae, dan karena tetesan air yang menetes ketangan mungilnya. Di lepaskannya tangan donghae dari lehernya dan memasang wajah cemberut kearah pria itu, tapi Donghae hanya membalasnya dengan senyuman, karena ia tau apa yang akan dilakukan gadis itu selanjutnya.

“Chamkaman” katanya dan mengisyaratkan Dongahe untuk duduk di sofa menunggunya. Dongahe mengangkuk melihat kepertian gadis itu dari hadapannya.

kamu mau sampe kapan sih terus kayak gini?” gadis itu menaruh handuk yang dibawanya dari kamar mandi tadi diatas kepala Donghae, dan mulai mengeringkan rambut basah itu. Mendengar kata asing yang keluar dari mulut gadis nya membuat keningnya berkerut.

“Apa yang kau katakan?”

“Anyi!” mendengar jawaban itu Donghae hanya diam menikmati setiap sentuhan handuk yang di gosokkan gadisnya dengan lembut. Ini memang sudah kebiasaanya jika baru selesai mandi, ia akan dengan sengaja membiarkan rambutnya yang masih basah tidak terkena handuk, ia tak perduli dengan baju yang tadi kering jadi basah karena ulahnya. Ia hanya ingin gadisnya yang mengeringkan rambut basahnya dan memasukkan jari jarinya pada rambutnya. Handuk itu terus bergerak dikepalanya, tapi ia tak perduli tentang handuk, yang ia perhatikan sekarang adalah wajah gadisnya yang mengeluarkan berbagai macam expresi yang berbeda sejak tadi. Semua  expresi yang menjadi favoritenya sejak pertemuan pertama mereka.

Watashi kirei?” gadisnya sekang memunduk membalas tatapannya. Mendengar pertanyaan itu, Dongahae membalasnya dengan senyum mengembang lalu dibenamkannya wajahnya diperut gadisnya dan melingkarkan kedua lengannya dipinggang si gadis. Sigadis hanya tersenyum simpul melihat tingkah laku suaminya ini dan melanjutkan aktifitasnya.

“ Kenapa kakimu biru begini? Hah? Aku kan sudah bilang untuk berhati hati!” Donghae menyuruh gadisnya duduk di sofa, tadi tanpa sengaja ia melihat punggung kaki gadisnya tampak biru, dan benar saja, setelah ia pastika itu seperti bekas benturan. Sebotol minyak kayu yang kini ditangannya mulai dibuka, lalu dioleskan dan dengan pelan memijit kaki itu.

“Tadi pot bunga itu, yang ada disana…” ia menunjuk keluar jendela, mengarah kesebuah pot bunga kecil yang tampak sedikit berat.

“Kenapa dengan pot bunga itu?”

“Dia tak sengaja menendang kakiku!” dongahae mengerutkan keningnya heran, tapi setelah tau apa yang dimaksuk gadisnya ia tersenyum. Ini memang sering kali terjadi, sering kali gadisnya akan terbalik mengucapkan kalimat, seperti sekarang, mana ada pot bunga menendang kaki manusia, yang ada hanyalah manusia yang menendangnnya. Jika sudah salah seperti itu, gadisnya terlihat sangat tidak bersalah, Ia jadi gemas sendiri.

“Maksudmu, kau tidak sengaja menendang pot bunga?”

“Oh, maksudku begitu” cengirnya. Dinikmatinya setiap sentuhan Donghae dikakinya, sekarang giliran dia yang menatap Donghae.

***

Donghae mengucek matanya berat, mencoba untuk mengembalikan kesadarannya kembali, setelah terlelap, entah berapa lama. Dilihatnya gadis yang beberapa saat lalu masih terjaga, kini sudah memejamkan matanya, tertidur pulas dengan posisi lutut yang menyangga kepalanya. Diusapnya pipi gadis itu lembut dan memperhatikannya sejenak. Lalu memutuskan untuk menggendongnya ke kamar, dan menidurkannya di ranjang mereka. ia juga mengambil posisi berhadapan dengan gadisnya. Ditariknya selimut yang berada dibawah kaki mereka, dan menenggelamkan tubuh mereka disana.

Donghae merapatkan tubuhnya lebih dekat dengan gadisnya, dan memeluknya erat. ‘ini lebih baik’ gumamnya, dan memejamkan matanya.

***

“Oppa aku keluar sebentar membeli bahan makanan,

 jangan khawatir aku akan segera kembali”

Donghae membaca lagi memo yang ia temukan disamping tempat tidurnya saat bangun tadi. ia gelisah, sangat gelisah, sudah hampir satu jam berlalu tapi gadisnya tak juga menunjukkan akan segera kembali, gelasan air putih sudah diteguknya habis, membuatnya sedikit kembung, tapi mengingat gadisnya semua rasa itu dengan cepat terkalahkan, digantikan dengan rasa khawatir yang membludak ingin meledak seperti bom atom. Hujan semakin lama semakin deras menguyur setiap senti halaman rumahnya, membuat tanah-tanah manjadi sedikit berlumpur. Donghae memandang payung yang tersandar didepan pintunya dengan tatapan jengkel, ‘lagi-lagi gadis itu tidak membawa payung’ gerutunya. Tapi meskipun begitu, tidak biasanya gadis itu akan berteduh. Ia pasti akan menerobos hujan itu sebesar apapun ia mengguyur bumi. Tapi kali ini? Kemana sebenarnya gadisnya. Donghae sungguh tidak yakin jika sampai saat ini gadisnya masih di supermarket, karena setahunya hanya ada satu supermarket besar disekitar sini. Dan ini adalah hari minggu, jadi semua orang di kompleks ini tau tak terkecuali dirinya, jika hari minggu mereka hanya buka pada jam sore sampai malam. Lelah dengan semua pikiran yang menyerbunya secara bersamaan, donghae memutuskan untuk menyusul gadisnya.

“Kamana kau gadis bodoh? Kenapa kau harus bersikap seperti ini? Aku tau aku salah” donghae terus bergumam tak jelas. Ia menunduk kelelahan, pakaian yang dikenakannya sedikit basah karena terus berlari dan tak memperdulikan letak payung yang sedari tadi digenggamnya. Entah sudah berapa kali ia terbatuk-batuk karena kesulitan mengambil nafas. Donghae mengumpat kesal saat mengingat supermarket yang didatanginya tadi sukses membuat harapannya kandas. Supermarket itu benar-benar tutup, bahkan sedikit celahpun tak terbuka sama sekali. Kemana gadisnya? Untuk kesekian kalinya pertanyaan ini lagi lagi menghantamnya. Donghae bingung, kemana lagi ia harus melangkah? Apakah ia harus menuruti kakinya yang tetap tak mau berhenti, ataukah badannya yang sudah menandakan tak mampu berlari lagi?.

***

Langkahnya terhenti, ia melihatnya, gadisnya, gadisnya disana, meringkuk memeluk tubuhnya yang menggigil sejak tadi, bahkan gadis itu tak mamakai jacket, hanya mengandalkan baju kaos kebesaran yang sering sekali dipakainya. Dugaan donghae benar, gadis itu tidak pergi kemana-mana, hanya menenangkan dirinya, dan berusaha menghindar darinya. Donghae kesal, kenapa harus seperti ini? Untuk pertama kalinya donghae merasa sangat marah pada gadisnya. Marah akan kebodohan mereka berdua. Apa mereka tak bisa saling mempercayai satusama lain, apa tak bisa saling berbagi kesedihan? Jika begitu untuk apa ia diisini untuk gadis yang kini hanya diam saja di dalam box telpon bodoh yang lebih dipercaya untuk menenangkan diri dibandingkan dengan dirinya?. Dia benar-benar merasa tidak berguna. Bahkan dia dikalahkan oleh sebuah box telpon berwarna merah tolol.Dan itu membuatnya semakin marah, mengetahui gadisnya tak membutuhkannya sedikitpun.

Gadis itu memeluk lututnya kuat, dingin semakin senang mengganggunya, tapi dia membiarkan semua itu, pandanganya kosong, sekarang ia sama sekali tak berniat pulang, ia tak sanggup melihat pria yang kini menunggunya pulang, ia tahu pria itu sangat mencintainya, dan tak mungkin  meninggalkannya. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini sesuatu menonjoknya bertubu-tubi, mengatakan bahwa dia bukan wanita yang pantas untuk seorang pria yang bernama LEE DONGHAE. Dia tak ubahnya hanya seorang gadis asing yang terlalu mencintai pria itu,mencintainya dengan kadar yang terlau berlebihan. Dia tak tau cara menyenangkan pria itu, berkomunikasipun dia masih belepotan tak ubahnya seperti lap tangan yang kotor.  Pria itu butuh seseorang yang bisa menampung semua curhatnya jika ia mulai lelah, bisa mengerti apa yang pria itu katakan. Pria itu butuk gadis korea, bukan malah gadis indonesia yang kadang tak mengerti apa yang pria itu katakan padanya. Membuatnya merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. kenapa pria itu harus memilihnya?.

Tok tok. Suara itu membuyarkan lamunannya, membuatnya dengan refleks mengangkat wajah mungilnya kearah sumber suara. Air matanya hampir jatuh melihat seseorang yang sekarang berdiri didepannya, hanya ada sebuah pintu kaca yang memisahkan mereka. wajah pria itu mengeras, semua ekspresi tergambar dengan jelas disana, marah, seding, senang, kesepian, semuanya sangan jelas. Melihat wajah itu, gadis itu ingin sekali memelukknya erat, menghilangkan semua kegelisahan pria itu. Mendekapnya kedalam pelukannya, tapi melihat mata pria itu yang menghujamnya seperti ujung tombak membuatnya mengurungkan niatnya. Pintu itu terbuka hanya dengan sekali dorongan tangan, membuat gadisitu berdiri seketika.

“Ayo pulang” kata kata itu keluar dari mulut pria itu. Dingin sekali, wajah yang selalu tersenyum padanya berubah seketika, ada kekecewaan disana. Dan itu terasa seperti menguliti tubuhnya dengan kejam. Dilihatnya tangan pria itu mulai mengepal kuat, menahan semua amarah yang mungkin akan dikeluarkannya kapan saja. Tampa memperdulikan jawaban dari gadisnya pria itu berjalan meninggalkan gadis itu dibelakangnya, tapi sebelum itu semua terjadi, gadis itu dengan cepat menahan tubuh tegap itu dengan sebuah pelukan prustasi.

“Napeun namja,  dasar cowok jahat! Aku benci kamu! Kenapa kamu bisa buat aku kayak gini sih, aku gag bisa pura-pura gag peduli sama kamu, kamu bikin aku gag  pernah bisa berpaling, gag pernah bisa marah. Selama ini aku nahen biar gag nangis depen kamu, biar kamu gag khawatir sama aku, tapi buat kali ini aku gag bisa terus nahen semua ini. Maafin aku,aku gag bisa jadi istri yang baik buat kamu, aku gag bisa jadi seseorang yang kamu pengen, aku gag bisa jadi seseorang yang bisa menanggapi semua keluh kesah kamu. Maaf, I’M NOT A PERFECT GIRL.” Gadis itu terisak pelan, dan kini isakan itu berubah menjadi guncangan ringan ditubuh donghae. Gadis itu mengeratkan pelukannya, tak mau melepaskan pria dipelukannya ini, hilang sudah keinginan untuk meninggalan pria ini. Ia tak akan pernah bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa ada pria ini disampingnya. Kosong, itulah kata yang paling tepat.

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut gadisnya membuat donghae melepaskan pelukan gadis itu dipunggungnya, dipandangnya gadis didepannya dengan sorot mata lega, baru kali ini dia melihat gadisnya menangis, menangis dihadapannya. Ini yang dia inginkan, gadis itu mau menunjukkan perasaannya dihadapan donghae. Donghae tak mau menghapu air mata gadisnya, karena air mata itu berarti gadis itu membutuhkanya. Meskipun donghae tidak mengerti sedikitpun apa yang gadisnya katakan, tapi itu terdengan seperti hal yang menyakitkan, hal yang tak bisa disampaikan gadisnya dengan bahasanya, hal yang membebaninya selama ini. Hal yang membuatnya berpikir terlalu keras. Ditariknya gadis didepanya kedalam pelukannya, payung yang tadi dipengangnya dibuang sembarangan, dan kini air hujan dengan bebas menyentuh mereka.

“Gomawo, terima kasih karena merelakan hidupmu bersamaku, terima kasih karena menerimaku apa adanya, aku memang bukan pria yang baik untukmu, tapi bagiku, aku adalah pria yang paling  tepat untukmu, tidak ada yang bisa membahagiakanmu selain aku. Kau tidak perlu menjadi wanita yang perfect, aku hanya membutuhkan kau yang seperti ini, tetaplah menjadi istriku yang seperti ini, istri yang tidak bisa berbahasa korea, itu terdengar lebih keren, dari pada isrti yang  bisa bahasa korea tapi tak bisa membuatku sebahagia, seperti saat kau disisiku. Aku sadar, aku terlalu sering membuatmu menangis tanpa aku ketahui. Tapi tak bisakan kau terus berada disisiku? Karena aku tak tau bagaimana hidupku tanpa ada kau disampingku. Jadi tetaplah disampingku sampai akhir, jangan pernah berpikir akan meninggalkanku. Karena itu akan membuatku gila. Jadi sekali lagi tetaplah bersamaku.” Gadis itu melingkarkan tangannya dipinggang donghae, lalu mengangguk mantap meskipun ada sedikit kata-kata yang tidak ia mengerti sama sekali.

“Kapan terakhir kali aku melihatmu secantik ini? Setahun lalu?”

Gadis ini, gadis yang dinikahinya setahun lalu, Fira. Itu namanya.nama yang terus melekat diotaknya, dan tak ada tanda tanda bahwa donghae akan melupakan nama itu dengan mudah. Tidak walaupun banyak kemungkinan ia bisa melupakan nama itu. Gadis itu, gadis yang membuatnya tak akan melirik gadis manapun selain dia. Gadis yang dengan cepat membuatnya gila jika tak bertemu dengannya, segila yang orang tak mampu bayangkan. Ia akan tetap mencintainya, bagaimanapun keadaannya, ia akan terus menyaksikan setiap kerutan yang mulai tampak pada kulit gadisnya, itu berarti mereka akan terus bersama dan menua bersama. Hanya satu kata untuknya. Saranghae.

FIN.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Love Life: Geu Yeoja Umnida

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s