saya

SHE….

“ok! Kerja bagus !kita break sebentar” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya, kata-kata yang sangat ditunggu-tunggu oleh seriap kru disini.

“jong woona~na! kau tak ikut?” seorang kru berteriak padaku, sambil mengisyaratkanku untuk mengikutinya.

“anyio! Kau duluan saja hyung, aku sudah kenyang!” balasku, medengar jawaban itu, mereka dengan segera berlalu, sambil sesekali tertawa senang.

Jejudo, tempat paling tepat untuk menghilangkan semua penat, setelah melewati masa masa sulit dan hiruk-piruk Ibu Kota, Seoul. Tapi lain hanya denganku saat ini, Jejudo bukanlah tempat seperti itu, bersantai, bermalas malasan, melainkan sama halnya engan Seoul, kerja. Setidaknya untuk sekarang ini, sebutan itulah yang paling cocok.

Aku berjalan santai, ditemani dengan angi laut yang tak bertiup seirama. KIM JONG WOON, itu namaku, seorang Penyanyi terkenal, berusia 28 tahun yang sangat sibuk. Aku tau pekerjaan ini tidak bisa disepelekan sama sekali, meskipun aku termasuk seorang Profesional.

Aku menikmati semua ini, karena ini memang hoby dan cita-cita sejak kecil, tapi itu semua sudah tidak terlalu berlaku bagiku. Hiruk-piruk Dunia Hiburan sangat buas, sebuas macan yang siap menerkammu setiap saat, jika kau lengah? Maka kau akan habis!.

Dan yang membuatku merasa paling tidak tenang sampai sekarang ini, adalah, perkataan omma yang menyuruhku untuk segera membawa calon istriku menghadapnya, karena umurku sekarang, sudah tak bisa dikatakan muda lagi, dan sudah cocok untuk seorang pria yang menyandang status menikah. Aku tau omma benar, tapi saat ini sangat sulit bagiku untuk bisa dekat dengan seorang gadis. Bukan karena statusku sebagai seorang penghibur, melainkan belum ada yang cocok, atau lebih tepatnya, belum ada satu gadispun yang bisa membuatku tergila-gila.

Kuhentikan langkahku, dan merubah posisiku yang tadi menyamping, kini sepenuhnya menghadap ke Laut. Kupejamkan mataku, angin laut seperti berbisik padaku, rambutku terasa berantakan dipermainkannya. Suara deburan ombak menggelitik telingaku, dan kini mulai menyapu kaki keringku dengan lembut. Pasir tempatku berpijak sedikit demi sedikit terkikis diikuti dengan ombak yang menjauh. Posisiku saat ini, lebih tepatnya tampak seperti seorang pria bodoh yang ingin menantang laut, menantang semua isi dalamnya.

Kuhembuskan nafasku berat, tapi tak sedikitpun mataku ingin terbuka, angin yang tadinya menyapaku lembut, sedikit demi sedikit mulai menghantamku buas. Untuk kedua kalinya, kuhembuskan nafasku lebih berat sebelum memutuskan untuk benar-benar membuka mataku dengan sempurna.

Baru saja kuputuskan untuk berjalan kembali, kakiku tiba tiba saja terasa lumpuh total. Menolak semua gerakan yang berusaha kukeluarkan untuk memindahkan posisinya. Mataku juga ikut-ikutan menolak perintah otakku untuk berkedip. Aku bertanya ada apa sebenarnya? Dan dengan segera pertanyaan itu terjawab, mengalahkan kecepatan cahaya yang menembus bumi.

Kau disana, gadis pertama yang mampu membuat sistem kerja otak dan indraku lumpuh seketika. Apakah secepat itu tuhan menjawabku? Aku kah takdirku?.

Kau, seorang gadis dengan rok panjang longgar dan sebuah jaket kebesaran melekat dirubuhmu dengan indah, dan satu lagi, sebuah kain yang menutupi kepalamu dan hanya menyisakan wajah mungilmu disana, entahlah aku tak tau apa namanya. Kain penutup kepalamu itu kau masukkan kedalam jacket yang tidak kau kancing, kain itu menutupimu sampai perut, terlihat cantik ditubuhmu yang tak berlekuk sedikitpun, karena terhalang pakaianmu yang besar. Pemandangan yang tidak akan pernah kau jumpai dikota seperti Seoul. Kau hanya akan melihat sekumpulan gadis yang berlomb-lomba terlihat sexy dan fashionable. Itu hanya untuk menyandang status cantik, baiklah lupakan tentang gadis-gadis itu!.

Kau dengan penutup kepalamu, mulai berjalan mendekati laut, bibirmu mulai terangkat naik, membuat senyuman manis tersungging disana. Meskipun menurut kebanyakan orang pakaian yang kau kenakan mungkin terlihat panas dan menyulitkanmu untuk bergerak lebih bebas. Tapi dimataku kau terlihat nyaman dan mempesona. Wajah teduhmu, menenangkan setiap degup jantungku yang ingin meloncat keluar.

Secepatat itu hatiku kau sandra dan kau buat merekah, secepat itu pula kau hempaskan dan tak menyisakan sedikitpun harapan untukku, benar-benar tak tersisa, meskipun sebesar debu yang tak kasat mata. Aku bertanya, apakah kita begitu berbeda, sehingga tak ada celah bagiku untuk masuk dihatimu? Seberbeda itukah?. Aku tau, bahkan dengan mata telanjang sekalipun, dapatku lihat perbedaan itu. Aku berusaha untuk untuk mengelak, tapi sekeras apapun usahaku, itu percuma saja, kenyataan sangat dekat denganku sekarang. Menyerangku dengan ganas dan tanpa ampun.

Pria yang kini memelukmu dengan erat, sudah bisa membuktikan bahwa kau bukanlah takdirku, aku iri padanya. Kenapa buka aku yang mendekapmu dalam pelukanku, kenapa harus dia? Aku sangat sadar, aku baru saja bertemu denganmu saat ini, dan mungkin kau malah tidak menyadari hal itu. Tapi aku tak perduli, karea rasanya aku sudah mengenalmu begitu lama, sampai suara hembusan nafasmupun akan kukenal dengan sangat akrab.

Pria itu lebih mempererat pelukannya dipinggangmu, dan tidak ada penolakan sedikitpun darimu, malah kau terlihat sangat menikmatinya sampai kau harus membalasnya dengan menggenggam tangannya erat, seolah hanya kau yang dapat menyentuh tangan itu. Dia sedikit menggoyangkan badanmu, dan kau tersenyum senang.harus kuakui, kalian terlihat cocok satu sama lain. Banar-benar pasangan yang serasi, tapi aku berpikitr, akankah lebih serasi lagi, jika kau bersamaku,aku yakin itu! Sangat yakin jika aku dapat membuatmu bahagia, melebihi pria yang kini bersamamu.

“Ma..! liat deh, kerang ini bagus kan?” seorang gadis kecil menghampirimu, pria itu melapas pelukannya darimu, dan berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan gadis kecil itu.

“Iya bagus! Adek dapet dimana..?” kau juga mengikuti gerak pria itu. Aku memang tidak mengerti apa yang kalian katakan, tapi dengan gerak-gerik kelian aku sedikit mengerti.

“Adek dapet disana pa!” sigadis kecil menunjuk kearah gundukan pasir tak jauh dari tempat kalian berdiri. Didetik berikutnya, aku mulai sadar, bahwa gadis kecil yang kini bersamamu adalah anakmu dan pria itu. Mengetahui itu, kekecewaanku bertambah besar, kakiku mulai melemas melihat kenyataan yang tersaji dihadapanku. Kau, suamimu, dan kini anakmu.

Baiklah, mungkin ini memang sudah takdir kita, tak diciptakan untuk saling memiliki.kau adalah gadis paling menakjupkan yang pernah kutemui, meskipun kita belum mengenal satu sama lain, tapi aku tau dengan pasti hal itu. Hanya dalam hitungan beberapa detik saja, kau mampu mengambil seluruh fokusku,  dan dalam hitungan beberapa detik pula, kau mengahancurkan semuanya. Hanya menyisakan sakit dan cinta yang tak pernah terbalaskan. Tapi aku tau cintaku untukmu tak akan pernah berubah sedikitpun, dan mungkin akan terus bertambah setiap detiknya, aku kalah, takdir memang benar-benar kejam.

***

“Joong-Woon~na?” kutatap wajah yang kini berada tepat didepanku, bingung. Kukedipkan mataku beberapa kali, meraih kesadaranku kembali.

“Ne..?” tanyaku bingung.

“Sebentar lagi kita akan mulai syuting lagi, ja ireonna!” hyungnim menarik tanganku, sehingga posisiku sekarang menjadi duduk.

“Aku kira kau pergi makan, tapi ternyata kau malah tidur dipantai seperti ini” hyungnim mengisyaratkanku untuk berjalan mengikutinya. Kami berjalan pelan.

“Barapa lama aku tertidur?”

“Tidak terlalu lama!” aku mengangguk mengerti, apakah itu semua mimpi? Kenapa rasanya senyata itu, dan perasaan ini masih sama, masih mencintaimu. Mengingat itu membuatku sulit untuk mengambil nafas. Kau, kau ada dalam mimpiku, gadis berwajah teduh yang membuat seluruh organ tubuhku tidak bekerja dengan baik, dan malah meninggalkan fungsinya masing-masing. Apakah kau nyata?

DHEG. Aku terdiam, bingung sekaligus bersyukur, tuhan begitu cepat menjawab pertanyaanku. Kau disana, tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Ombak sedang menggoda kakimu dengan berminat, kau tak berubah sedikitpun, masih seperti terakhir kali aku melihatmu, mengenakan pakaian yang sama dan senyum yang sama pula. Tapi satu yang berubah, tidak ada pria dan gadis kecil itu. Benar-benar sudah tak ada, dan mungkin memang tak pernah ada. Aku lega, senang, bahagia, tanpa sadar senyumku merekah kembali. Aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mendapatkanmu bagaimanapun caranya, walaupun itu menyangkut nyawaku, aku tak perduli. Dan aku akan mencoba untuk menghilangkan perbedaan diantara kita.

“Jong-Woon~na palliwa!”

“Oh ne hyung!” mendengar teriakanku, kau secara refleks menoleh kearahku, dan tersenyum. Apa? kau tersenyum? Padaku? Dan ini bukan mimpi. Sebelum kuputuskan untuk menyusul hyungnim aku membalas senyumanmu. Aku merasa da bunga-bunga yang kini tumbuh subur dikepalaku.

FIN

Iklan

Satu tanggapan untuk “SHE….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s